Senin, 24 September 2012

pergaulan remaja sehat

Setiap hari pastinya kita akan bergaul dengan teman-teman di sekolah, di kampus, di kantor dan dimana pun biasanya aktivitas anda lakukan disana jugalah pergaulan anda. Pergaulan ada dua kategori yaitu, Pergaulan yang baik dan buruk. Pergaulan yang baik bisa juga dikatakan dengan pergaulan yang sehat.

Disini saya akan lebih membahas tentang pergaulan yang baik / sehat. Untuk anak remaja biasanya dia lebih suka berkumpul atau bergaul dengan teman-temannya di suatu tempat. Tempat adalah faktor penting untuk menandakan pergaulan itu bagus atau buruk. Misalkan saja kita bergaul ditempat yang biasanya tempat-tempat orang mabuk-mabuk, berjudi, obat-obatan terlarang narkoba. secara tidak langsung kita pastinya akan terbawa pada situasi dan pergaulan tersebut, sehingga hal tersebut akan merugikan diri kita sendiri.

Pergaulan ditempat yang bagus atau sehat adalah dimana pergaulan kita selalu ada orang yang mengawasi. Misalnya dirumah teman yang dirumah itu ada salah satu orang seperti ibu, bapak, kakak, kakek dan nenek yang bisa mengawasi kita. Karena dengan pengawasan dari salah satu orang tersebut akan membuat kita selalu bertingkah dan berperilaku yang positif dan itu lambat laun akan menjadi kebiasaan kita.

Selain dari tempat pergaulan, orang atau teman-teman pun sangatlah penting dari pergaulan. Pilihlah teman yang pastinya baik, sopan, suka menolong, tidak sombong, pintar dan berperilaku yang bagus. sehingga kita akan merasa nyaman berteman dengannya dan akan membuat kita akan berperilaku yang baik pula dan sama sekali tidak merugikan bagi kita.


Hindarilah teman-teman yang suka memanfaatkan kita, yang sering berbuat buruk, tidak sopan, sombong dan pemalas. Apabila kita berteman dengan teman yang seperti itu lama kelamaan kita pun juga akan bertingkah dan berperilaku seperti itu.

Ada suatu kalimat yang saya ingat, bergaul dengan orang berdagang minyak wangi pastinya kita akan juga terasa wangi, sebaliknya apabila bergaul dengan orang yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri maka kita juga akan merasa merepotkan diri sendiri.

Jangan sampai kita merusak diri sendiri dengan pergaulan kita yang tidak sehat, sangatlah penting kita memilih teman dan tempat bergaul karena hal itu akan menjadikan bagaimana kita selanjutnya.


Masa remaja identik dengan cinta. Sayangnya, cinta identik dengan pacaran. Karenanya, masa remaja tanpa berpacaran, seperti sambal tak bergaram. Hambar. Tak ada sensasi. Benarkah begitu?
Di sisi lain, kita mendapati realitas memprihatinkan tentang gaya pacaran remaja yang makin permisif. Pacaran tidak lain hanyalah “ajang baku syahwat” tempat melampiaskan buncahan nafsu seksual yang mulai menggelora. Maka, kita pun mengenal istilah KNPI dalam gaya pacaran. KNPI = Kissing, Necking, Petting, dan Intercourse.
Akibat dari itu, angka aborsi di kalangan remaja meroket pesat. Perkiraan BKKBN, di Indonesia ada sekitar 2 juta kasus aborsi terjadi setiap tahunnya. Dan menurut penelitian, 60% aborsi dilakukan remaja. Data Bapenas 2009 menunjukkan, 30 persen dari 2 juta remaja melakukan aborsi.
Belum lagi kasus penyakit kelamin, kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted pregnancy), dan lain-lain. Berdasarkan data dari Depkes pada Maret 2009, sebanyak 9.231 remaja atau 54,3 persen dari 17.000 remaja di Indonesia mengidap HIV/AIDS.
Fakta memprihatinkan itulah, yang kemudian mendorong lahirnya gagasan tentang wacana “pacaran sehat”. Di mana pacaran seharusnya tidak merupakan wahana “kontak fisik”, melainkan laku “olah rasa dan batin” untuk terwujudnya hubungan yang harmonis dan positif menuju jenjang pernikahan.
Potret Permisifisme
Pacaran memang merupakan tema ‘arus utama’ masa remaja. Itulah bahasan paling menarik di masa remaja, di samping kata ‘cinta’. Bila ditelesik, itu karena psikologi remaja yang memasuki masa puber. Sedang pubertas, kata Elisabet B. Hurlock dalam bukunya Psikologi Perkembangan, adalah periode perkembangan ketika anak-anak berubah dari makhluk aseksual menjadi makhluk seksual.
Masih menurut Hurlock, mengutip pendapat Root, “Masa puber adalah suatu tahap dalam perkembangan di mana terjadi kematangan alat-alat seksual dan tercapai kematangan reproduksi. Tahap ini disertai dengan perubahan-perubahan dalam pertumbuhan somatis dan perspektif psikologis”.
Karena itulah, saya sependapat dengan psikiter Semarang Dr. Ismet Yusuf yang bilang, pacaran merupakan perilaku seksual yang banyak dilakukan remaja. Keadaannya sangat bervariasi dan bertingkat-tingkat. Diawali dengan omong-omong santai, dan meningkat sampai surat-menyurat, kontak lewat telpon atau kontak lewat udara (sekarang bisa lewat sms), lalu saling mengunjungi. Meningkat lebih lanjut, pergi berduaan, saling bergandengan tangan, dan bermesraan. Tingkatan lebih lanjut, saling raba, saling cium, sampai berhubungan seksual. Jarang ada pacaran yang tanpa dibumbui dorongan seksual.
“Hal ini oleh karena perkembangan fisik dan psikologis remaja sudah sampai taraf kematangan,” kata psikiater kondang Semarang itu.
Bukan sekadar isapan jempol, banyak survei yang menunjukkan gaya permisif pacaran di kalangan remaja. Mereka tidak saja sekadar nyerempet-nyerempet seks, tapi juga sudah banyak yang melakukannya. Inilah potret permisifisme pacaran di kalangan remaja yang sulit dibantah, apalagi dipatahkan.
Pacaran Sehat?
Lalu bagaimana dengan pacaran sehat? Pacaran sehat digagas untuk mengeliminir dampak-dampak negatif pacaran. Pacaran sehat mengenal tiga prinsip: sehat secara fisiologis, psikologis, dan sosiologis. Pacaran sehat tidak boleh menyakiti pasangannya, baik secara fisik maupun psikis. Juga dilakukan dengan mengindahkan nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat (sehat secara sosiologis). Di sana ada nilai keluarga dan agama, ada norma dan kebiasaan. Jargon yang sering diusung oleh penganjur pacaran sehat adalah “Pacaran Yes, Seks No!”
Masalahnya, pada realitanya, dalam berpacaran, kedekatan fisik dan juga kontak fisik sulit dihindari. Sementara hubungan seks dalam berpacaran (dalam term agama disebut zina), selalu diawali oleh kedekatan fisik dan kontak fisik, baik ringan sekalipun seperti ciuman.
Joe White dalam buku Jangan Terkecoh menggambarkan proses terjadinya hubungan seks seperti termometer. Pertama dalam kondisi normal, dorongan seksual berada dalam posisi 98,6 c, kemudian saat berpegangan tangan posisi nafsu berada pada 99 c. Kemudian saat berpelukan berada pada posisi 100 c, saat ciuman 101 c, saat ciuman berat 102 c, saat cumbuan ringan 103 c, saat cumbuan berat 104 c, dan saat terjadi hubungan seksual berada pada 105 c.
Dari gambaran Joe White di atas menunjukkan, bahwa angka perubahan posisi nafsu seksual akan selalu bergerak dinamis/meningkat. Karenanya, kontak fisik laki-laki dan perempuan yang masing-masing sudah matang (memiliki dorongan seks), rata-rata akan mudah menggelincirkan diri pada perzinaan.
Kasus-kasus kehamilan di luar nikah atau yang biasa disebut ”kecelakaan” memang seringkali tanpa direncanakan terlebih dahulu. Umumnya karena seringnya melakukan kontak fisik, baik berupa ciuman maupun cumbuan, membuat mereka terlena dan tergerak untuk menuntaskannya ke dalam kontak fisik yang lebih serius, yakni hubungan seksual.
Karena itulah, Al-Qur’an secara tegas menyatakan, “Dan janganlah kamu dekati zina. Sesungguhnya perzinaan itu perbuatan keji dan jalan hidup yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32).
Cermatilah, bagaimana redaksi ayat yang digunakan oleh Allah dalam melarang perzinaan. Larangan zina dalam ayat di atas sangat tegas, bahkan Allah melarangnya dengan kalimat “janganlah kalian dekati zina”. Larangan ini mengandung arti, zina merupakan perbuatan yang sangat keji dan akan mendatangkan madharat. Karena itu harus dijauhi sejauh-jauhnya, tidak saja zinanya, tapi juga semua perbuatan yang mengarah pada zina.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar